May 21, 2008

Seorang Sahabat

"Seorang sahabat
adalah seseorang tempat engkau dapat mencurahkan segala isi hatimu,
mengupas dan menggilingnya bersama,
tahu bahwa angan-angan terlembut akan mengambilnya dan memeriksanya,
mengambil yang berharga untuk disimpan,
dan
meniupkan yang tersisa dengan sebuah hembusan kebaikan."
- Pepatah Arab

Manusia modern sangat ingin mengobrol, berbagi. Manusia pada dasarnya sangat mendambakan teman. Di sisi lain, manusia modern itu juga sangat menginginkan kesendirian, privasi. Ketika berhadapan dengan kedua dambaan ini, manusia modern itu bisa menjadi gamang, atau malah tidak sadar kondisi sejatinya.

Laptop
Ada dua orang lelaki bekerja bersebelahan, di satu ruangan, di satu kantor. Masing-masing bekerja di depan laptop. Ketika tiba saat makan siang, mereka mengobrol:
"Andy, lunch yuk!"
"Ayo. Sekarang?"
"Iya dong."
"Hayuk!"
"Sebentar, di mana?"
"Di mana saja boleh."
"Di Godiva?"
"Ok."

Begitulah Andy dan Broto sepakat pergi bersama. Sebelum berangkat masing-masing menyiapkan ransel, yang berisi perkabelan dan asesoris laptop. Mereka menuju mobil yang siap bergerak. Sopirnya sudah persis menghentikan mobil di depan pintu keluar. Setelah duduk dengan posisi agak mantap, mereka berdua membuka ransel masing-masing, mengambil laptop, menghidupkannya dan tangan mulai meliuk-liuk di atas keyboard.
Setelah mobil berhenti, dengan cepat keduanya melipat laptop, memasukkan ke ransel dan mengaitkan ke pundak.Mereka mengambil meja yang untuk dua orang saja. Meja dua kursi. Pelayan dengan senyuman latihan dan arahan supervisor menyodorkan daftar menu. Andy dan Broto menuliskan makanan dan minuman pilihannya di kertas dengan pensil. Pelayan Godiva mengambilnya kertasnya, membawanya ke tempat memasak dan ke kasir.
Andy dan Broto dengan secapat kilat membuka laptop lagi. Asyik dengan layanan hotspot Godiva. Makan siang dengan tenang. Pulang ke meja kantor dan duduk lagi di depan laptop dengan damai.

Tahu sebenarnya yang terjadi? Inilah tragedi manusia. Andy dan Broto mulai berangkat sampai kembali lagi ke meja masing-masing, tanpa mengobrol. Komunikasi tadi lewat chatting. Mereka juga memilih tempat makan yang ada layanan internet gratis. Tapi betulkan gratis? Bukankan harga itu sudah termasuk dalam harga makanan? Mereka berangkat bersama, duduk bersama di satu mobil, makan dan minum bersama, kembali bersama, sampai bekerja lagi di depan laptop masing-masing, tanpa saling memandang, tanpa berbicara satu sama lain. Padahal mereka berdua hanya sejauh langkah kaki. Apakah Andy dan Broto memerlukan teman?

Manusia Memerlukan Sahabat
Robert J. Miller dan Stephen J. Hrycyniak dalam GriefQuest: Reflections for Men Coping with Loss, mengatakan bahwa paling tidak ada dua alasan bagus mengapa relasi sangat penting. Pertama, kita memerlukan orang lain untuk menegaskan perjalanan dan membenarkan apa yang sedang kita jalani. Kedua, relasi dan persahabatan mengajarkan kita nilai 'duduk di lumpur' atau 'keterlibatan'.
Sungguh sangat tidak mudah untuk mempunyai sahabat yang mampu 'duduk bersama dalam lumpur.' Masihkah hal seperti itu populer di masa sekarang? Masihkah persahabatan masuk akal di zaman ini? Justru, di era yang sakarang kita dikendalikan oleh pekerjaan, diatur oleh target, persahabatan sangat mendesak dan penting.
Penyair Thomas Stearns Eliot, yang mendapat Nobel Kesusasteraan tahun 1948, berkata tentang persahabatan sejati seperti relasi pasangan hidup. Pasangan hidup adalah "sebuah titik tenang dalam dunia yang kacau," demikian kata T. S. Eliot. Kata-kata itu tidak akan pernah sungguh terbukti selain dalam masa-masa sulit. Seorang sahabat dekat atau pasangan hidup dapat menjadi:

... batu kekuatan yang tenang ...
... suatu sumber dukungan dan semangat ...
... suatu kehadiran yang tenang dan membuat stabil ...
... sebuah katalisator kejujuran diri dan ungkapan pribadi ...
... sebuah 'spons' untuk penyaluran emosi ...
... sebuah suara yang tahu betul telaah batin kita.

May 19, 2008

Tahap-tahap Kehidupan (2)

Ada empat tahap dalam kehidupan manusia(pria) yang diambil dari ajaran India,
dikutip kembali dari A Man's Approach to God oleh Richard Rohr, O.F.M..
Tahap-tahap ini akan memberi wawasan yang sangat bermanfaat.

Pertama, seseorang adalah murid.
Seorang pelajar yang mengambil dari kehidupan dan belajar dari kehidupan. Seorang manusia yang ingin mengetahui sesuatu. Tapi ini adalah tahap paling awal dan sederhana. Seoran bayi juga bisa melakukan sesuatu lewat pembelajaran.

Kedua, seseorang menjadi pengelola rumah tangga.
Seorang menikah, membentuk sebuah keluarga, mendirikan sebuah rumah tangga.
Terlalu banyak orang yang berhenti di sini, karena menganggap tahap ini adalah tujuan dan
akhir kehidupan. Seluruh hidup mereka diabadikan untuk membangun dan memperbaiki rumah (tangga), kemudian menunggu orang datang mengunjunginya.

Ketiga, seseorang menjadi pencari atau penghuni hutan.
Seseorang keluar dari dunianya yang kecil, untuk mulai memusatkan diri pada komunitas dan dunia yang lebih luas. Seseorang yang tetap berkarya bukan hanya untuk dirinya sendiri dan mulai bergerak ke luar dari hanya dirinya sendiri, keluarganya, kelompoknya menuju yang lebih besar lagi, lebih utama lagi, lebih luas lagi.

Terakhir, orang bijak atau filsuf, filosof, philosopher.
Orang yang menyatukan kehidupan batin dan luar batin.
Hanya segelintir orang yang benar-benar pernah mencapai tahap ini.
Seperti kata pepatah, "Ia berpikir global, tapi bertindak lokal."
Orang-orang yang sudah sampai di sini semisal Dietrich Bonhoeffer, Winston Churchill, Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Jr., Abraham Lincoln, Nelson Mandela, Uskup Agung Oscar Romero, Bunda Teresa, dan Paus Yonanes XXIII.

Richard Rohr, O.F.M., menggambarkan tahapan-tahapan itu dengan sederhana dengan menyebutnya kenaifan pertama (first naiveté), diikuti oleh kesadaran kompleks,
dan akhirnya kembali kepada kenaifan kedua (second naiveté).
Dari luar kelihatan seperti akan kembali kepada kesederhanaan dan pada akhirnya memang demikian.
Pola tersebut pada prinsipnya adalah pencarian manusia untuk menemukan arti dan tujuan.
Manusia mencari sesuatu yang baru dan akhirnya menemukan kembali sesuatu yang lama.

Perjalanan mental manusia pada dasarnya adalah suatu perjalanan melingkar yang abadi.


Tahap-tahap Kehidupan (1)

"Every human action, whether it has become positive or negative, must depend on motivation."
-- Dalai Lama





Monitoring what motivates me has helped me see how I am growing.
I do things for different reasons now than I did 10 years ago.
As we pay ongoing attention to our motives,
we can see how both our conscious and unconscious attitudes are changing.
Here are some ways that our motives can shift with rising consciousness:
- I desire
- I want to collect things
- I want to know
- I want to serve
- I want to be


What are your motives as you participate in life?


"There are three kinds of people and three kinds of richness:
- people who want to have, to collect
- people who want action, work and labor
- people who want to be

The real richness is in be-ness.
People can take all that you have, all that you collected.
People can stop your labor, or an accident can stop you.
When you are, you never lose what you are."
-- Torkom Saraydarian


"You are what you think.
You are what you go for.
You are what you do!"
-- Bob Richards


"A good intention clothes itself with power."
-- Ralph Waldo Emerson


www.higherawareness.com