September 17, 2009

Siapa Saja yang Terlibat?


"Orang pada dasarnya, ingin dihargai atas kerja keras mereka."

~ David C. Novak, pemimpin Yum Brands


Selama dua hari ini, di waktu senggang, saya pergunakan untuk membaca buku-buku. Ternyata, isi buku-buku menarik. Salah satu yang menarik adalah kutipan di atas, dari David C. Novak itu.


Memang ungkapan itu, sepertinya biasa-biasa saja. Itu menjadi berarti karena saya beberapa hari sebelum membaca ungkapan itu, menonton konser musik dan paduan suara.


Saya bisa merasakan alunan suara penyanyi dan alat-alat musik pengiring. Saya bisa merasakan semua bunyi yang berasal dari alat musik yang bermacam-macam membentuk sebuah harmoni. Saya bisa merasakan sedikit gerakan para penyanyi ketika lagunya bernuansa gembira. Saya masih bisa merasakan suara alat musik yang dimulai sangat pelan dengan nada yang sangat rendah sampai menjadi nada yang sangat tinggi melengking tapi bening dan jernih -- biola. Suara drum, perkusi, gitar dan juga hentakan kaki. Suasana harmoni.


Kalau mengingat konser musik seperti ini teringat juga akan para penyanyi tenor atau sopran. Teringat lagi para penyanyi solo atau kelompok musik, mulai dari Joan Baez, Elton John, Sarah Brightman, Katherine Jenkins, Russell Watson, juga Collective Soul, Queen bahkan sampai Carrie Underwood, seorang pemenang American Idol.


Sering kali, ketika secara khusus mendengarkan penyanyi atau pemusik favorit, saya mengambil sampul albumnya dan mencoba melihat gambar-gambar yang ada. Sering juga sengaja untuk melihat adakah ditampilkan lirik lagu pada album itu.


Pengamatan kecil-kecilan, sering pada album lagu Barat, dituliskan semua orang yang terlibat. Bukan hanya seperti ucapan terima kasih pada sebuah buku pada Kata Pengantar, sering pada album-album itu ditampilkan siapa saja yang memberikan sumbangan pada lagu atau album itu.
Misalnya, jika ada beberapa lagu pada satu album, dan salah satu lagu diiringi beberapa pemain biola, maka pada bagian akhir lirik, atau bagian belakang kertas albumnya, tertulis semua nama-nama pemain musik yang ikur serta dan semua pemain biola itu.


Ini cukup menarik. Karena saya lihat di beberapa album lagu berbahasa Indonesia dan daerah, tidak banyak yang membuat seperti ini.


Tradisi atau kebiasaan yang sederhana tapi sangat bernilai. Saya membayangkan, mungkin ada pemain musik atau penyanyi pengiring atau penyanyi latar, sudah menampilkan kemampuan terbaik, barangkali latihan yang penuh upaya dan kerja keras.


Dengan tindakan sederhana -- ucapan terima kasih -- seperti menuliskan nama siapa saja yang terlibat dalam satu lagu atau album, merupakan sebuah apresiasi dan penghormatan yang tinggi bagi orang-orang yang terlibat.


Karena, sekali lagi seperti kata David C. Novak tadi, "Orang pada dasarnya, ingin dihargai atas kerja keras mereka."


Karena orang, sarana, dan peran yang berbedalah maka tercipta simfoni dan harmoni yang indah.

Seorang Pengkhotbah dan Seorang Supir Taksi


Kemarin, sambil menunggu waktu berbuka puasa, saya berbincang-bincang dengan beberapa sahabat. Banyak sahabat yang menunggu berbuka puasa juga. Muncullah ide tentang bagaimana mencoba melakukan sesuatu yang berarti. Tapi apa? Saya sendiri kurang tahu persis.


Sambil mencari apa yang berarti itu, kami berbagi cerita. Sampai juga ke hal-hal yang selalu menarik untuk direnungkan. Yakni, kita sering terjebak, karena kita melakukan sesuatu yang menurut kita baik, lalu kita beranggapan bahwa kita lebih baik daripada orang lain.


Sampai juga perbincangan misalnya tentang istilah 'menghormati orang berpuasa'. Mengapa orang-orang lain harus menghormati saya berpuasa? Sewajarnyalah orang lain berlaku wajar, dan sangat pantas juga saya berlaku wajar pula. Tidak perlu saya meminta yang aneh-aneh dari orang lain, karena saya berpuasa.


Lalu saya teringat akan sebuah cerita yang indah, saya cari, dan saya kutip.
Saya mendapatkan cerita ini *** Doa yang Penuh Kesungguhan


Doa yang Penuh Kesungguhan


Seorang pengkhotbah dan seorang supir taksi tiba di pintu gerbang surga pada saat yang bersamaan.


Setelah menanyai keduanya, malaikat penjaga surga pun membukakan pintu gerbang dan mempersilakan si supir taksi lebih dahulu. Kemudian ia minta si pengkhotbah untuk duduk dan menunggu pertimbangan selanjutnya.


Sang pengkhotbah menjadi sangat marah. "Bagaimana bisa kamu mempersilakan orang itu masuk ke surga lebih dahulu daripada saya?" keluhnya. "Saya berkhotbah setiap minggu selama lebih daripada 50 tahun. Yang dilakukan orang tadi hanya menyupir taksi di sekeliling kota."
"Itu benar," jawab sang malaikat, "ketika Anda berkhotbah orang-orang tidur. Tetapi, ketika supir ini menyetir orang-orang memanjatkan doa."


:-)


*** Cerita dikutip dari Wisdom of the Heart, karya Alan Cohen